Allahumma ghfir lahu
Kepergian itu tak pernah direncanakan sebelumnya. Sebab, sebagaimana aku, kamu dan banyak dari mereka selalu berpikir, hidup untuk hidup. Rutinitas dan kesibukan masing-masing tak menyisakan ruang untuk berpikir, hidup untuk mati. Atau memang tak mau disisakan. Sebab hidup untuk hidup itu tertawa, sedang hidup untuk mati itu berduka. Dan orang tentu lebih senang tertawa dibanding berduka.
Namun, hari ini (17 Juli 2006), kami dan kawan-kawan dipaksa untuk berduka, berhenti dari tawa. Ada yang 'pergi' tanpa meminta.
Teruntuk sahabatku,
ABQORI..Allahumma ghfir lahu wa rhamhu
Wa 'afihi wa 'fu 'anhu
Wa akrim nuzulahu wa wassi' madkhalahu
Wa ghsilhu bil maai wa tsalji wal barad
Wa naqqihi minal khatayaa
Kama yunaqqa tsaubul abyadhu min addanas
"Tapi kau memang pintar kawanku! Kau tidak salah start untuk 'pergi'. Sebab sabda penuntunku SAW : Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia 'fi sabilillah' sampai pulang kembali. Kau syahid, kawanku. Bahkan tanah peresapanmu kini tanah para Nabi", batinku dalam hati.
Cairo, 17 Juli 2006
(dimakamkan di pemakaman Duwaiqah Cairo, atas persetujuan orangtuanya yang sudah mengikhlaskan)
Labels: catatan
Hase Rene Renese !
Pulang dari Masjid Azhar, sesampai di dalam metro saya ngobrol dengan kawan dengan bahasa Indonesia. Tak tahunya ada anak-anak kecil yang memperhatikan kami. Sebut saja salah satunya bernama Bashol.
Saya menoleh ke mereka. "Hase renge renge mesessube berese .. " begitu sapa si Bashol ke saya menirukan bahasa Indo sambil ketawa-tawa. Saya pura-pura bingung dan saya terus tatap si Bashol dengan mimik kebingungan.
"Bese redassase serene.." katanya lagi sambil tertawa. Saya tetap melihatnya sambil senyum tapi dengan mimik pura-pura bingung. Bashol malah tambah cengingisan, tapi kawannya yang di sebelah bilang ke dia dengan bahasa arab amiyah, "Hei tolol..dia itu bisa bahasa mesir tau!". Ternyata beberapa kawannya ada yang mendengar saya ngomong dengan orang Mesir, tapi Bashol gak tahu.
Si Bashol cuek aja dan tetap cengengesan menggoda saya dengan bahasa 'planet rese renese' nya, sebab menurut dia saya gak bisa bahasa Mesir. Sekalian saja saya kerjain, pura-pura ga bisa bahasa arab sambil jawab pake bahasa isyarat.
"You speak english?" tanya si Bashol. ".....No!" jawab saya sambil main isyarat. Si Bashol tertawa, tapi kawannya senyum kecut liat si Bashol ngerjain saya, sebab mereka tau justru Bashol yang saya kerjain. Tawa saya hampir saja meledak, kalau bukan karena orang Mesir pada memperhatikan kami sambil mringis. Dasar anak-anak syemelekethe memang hase reseme derese srengenge redelethe... :)
Wadi Hoff,10 Juli 2006
Labels: catatan