27 January 2007

Dan & Tapi

Pak Ustad, kalo aku ingin belajar Islam, apa yang harus kubaca?

Pelajari Al-Qur'an. Baca tafsir Jalalayn, Ibnu Katsir, Kasyaf.
Dan supaya terbantu dalam pemahaman, pelajari Ilmu Quran, baca Itqan, Manahil Irfan, Al-Burhan.
Tapi itu saja tidak cukup, pelajari Hadits, baca Riyadush Shalihin, Mukhtashar Shahih Bukhari, Fathul Bari.
Dan untuk mengetahui kedudukan hadits, pelajari Musthalah Hadits, baca Ba'its Hatsits, Tadrib Rawi, Muqaddimah Ibnu Shalah.
Tapi untuk pemula, baca Taysir Mushtalah Haditsnya Mahmud Thahan juga ga papa.
Dan kamu harus pelajari Fiqh, baca Syarh Taqrib Abi Syuja, Iqna, Qalyubi wa Umairah.
Tapi juga harus paham Ushul Fiqh, makanya baca Syarh Waraqat, Nihayatus Suul, Al-Mustashfa.
Dan kamu juga harus paham Mantiq dan Ilmu Kalam, baca saja Sulam, Taqrib Maram, Syarh Maqashid.
Tapi juga harus paham Nahwu, baca Jurumiyah, Qatrun Nada, Syarh Alfiyah.
Dan Ilmu Aqidah itu juga penting, baca saja Kharidah Bahiyyah, Syarh Jauhar Tawhid, Iqtishad fil I'tiqad.
Tapi kalau kamu condong ke Salafy, baca Aqidah Isfahaniyah, Aqidah Washitiyah, Ma'arijul Qabul.
Dan kamu ...
Tapi juga ...
Dan ...
Tapi ...
...
...
Dan ma'ridl kitab dah dibuka.
Tapi [ ...... ? ]

26 January 2007

Ssst...!

Edan!
Aku nggak bisa ngalahin Boim, hebat bener anak itu!
MU - AC Milan = 2 - 2
Pertengahan adu pinalti, aku kalah dan minta ulang. Masak menangnya lewat adu pinalti, nggak asyik! Biasa, alasan orang lagi kalah :D
MU - AC Milan = 3 - 1 (pertandingan ulang sama aja, aku masih kalah)
England - French = 3 -0 (kalah lagi, edan tenan!)
Salam PES 2006, bacanya pe es atau pes? nggak tau ah. Lumayan dapat hiburan secuil.

25 January 2007

Capek ...

Sekarang sudah jam 4.16 am. Beberapa jam sebelumnya sudah kutinggalkan buku muqarrar tergeletak begitu saja. Aku sudah capek dengan berbagai perbedaan pendapat Syafi'iyah dengan Hanafiyah dsb. Semoga ujian terakhir (ushul fiqh) ini sesuai target. Percayalah, kawan! hidup ini lebih kompleks dibanding sekedar perbedaan pendapat fiqhiyah.

Cairo, 25 January 2007

17 January 2007

Mahmud Syakir

Saat ini saya sedang tertarik dengan sosok Mahmud Ahmad Syakir. Seorang fannan, adib, mutsaqqaf, muhaqqiq. yang dengan getol memperjuangkan keotentikan budaya arab dan islam. Sampai-sampai beliau menyerang habis-habisan pemikir arab Louis Awadl yang menganggap bahwa budaya arab banyak menjiplak dari kebudayaan yunani dan barat, khususnya dalam artikelnya yang membahas Risalah Ghufran milik Al-Ma'arry. Atau serangan beliau atas Thaha Hussein -dosennya sendiri- yang menganggap bahwa Syi'ir Jahily itu sekedar plagiat saja, yang dibikin-bikin penyair di masa Islam. Cendekiawan sekuler banyak bilang beliau ushuli, taqlidy, keras, tak menghargai perbedaan, dll. Tapi, namanya juga keyakinan, selama itu yang diyakininya dan ada data penunjang kebenaran keyakinannya, tentunya ia harus mempertahankannya.

Jadi pengen beli Jamharah Maqalat Mahmud Syakir yang diterbitkan maktabah Al-Khanji. Tertarik sama pemikirinnya yang orisinil araby islamy.

Cairo, 17 January 2007

Labels:

03 January 2007

Ibn Fadhlan, Sang Petualang Muslim

Jika anda pernah melihat film 13th Warrior yang dibintangi oleh Antonio Banderas, tentu anda akan mengenal sosok Ahmad ibn Fadhlan. Cerita yang ada di film itu sebenarnya disadur dari literatur klasik (turats) arab kategori adab rihlah (prosa perjalanan) yang berjudul Rihlah Ibn Fadhlan ila Biladit Turk war Ruus wash Shaqalibah (Perjalanan Ibn Fadhlan; ke Wilayah Turki, Rusia, dan Slavic).

Literatur perjalanan ini dikarang langsung oleh Ahmad ibn Fadhlan yang menjadi perwakilan dari khalifah dinasti Abbasiyah Al-Muqtadir billah (295 H) untuk memenuhi permintaan penguasa wilayah Slavic (Shaqalibah) yang bernama Al-Musy ibn Bulthuwar (versi arab) yang ingin mengerti lebih jauh tentang agama Islam dan syariatnya, sekaligus memohon dinasti Abbasiyah untuk membangunkan benteng maupun masjid di wilayahnya. Rombongan perwakilan terdiri dari Ahmad ibn Fadhlan bersama beberapa ahli fiqh, ahli perjalanan dan rombongan pengawalnya, yang bertolak dari Baghdad pada bulan Shafar 309 H. Dan perjalanan ditempuh selama kurang lebih 3 tahun.

Yang menarik dari perjalanannya, pengarang mampu melukiskan deskripsi perjalanannya secara hidup. Seperti gambaran geografi wilayah yang dilewati, kondisi sosial masyarakat, agama dan kepercayaannya, sampai bentuk badan maupun wajah bangsa yang dijumpai (antropologi), dll. Tidak terlalu mengherankan jika sosok Ahmad ibn Fadhlan mampu mendeskripsikannya secara apik, mengingat betapa majunya peradaban ilmu yang ada di Baghdad pada saat itu.

Perjalanannya tidak lepas dari kejutan bagi Ibn Fadhlan sendiri. Betapa tidak, pertama, ia sebagai seorang muslim yang meyakini ketauhidan akan menemui aliran keperayaan bangsa lain yang penuh mitos. Kedua, ia sebagai bagian dari masyarakat yang berada dalam puncak peradabannya di Baghdad, akan melewati bangsa-bangsa yang masih semi primitif. Sebagaimana yang banyak ia sampaikan di dalam paragrafnya, ia mengungkapkan keterkejutannya dengan adat orang-orang Slavic (kawasan Eropa Timur), bahwa mereka tidak mengenal kebersihan. Mereka tidak mengenal cebok (istinja) setiap habis buang hajat, tidak mengenal mandi janabah, bahkan ada salah satu ritual keperayaan, mandi dengan air yang dicampur ludah dan kotoran-kotoran lainnya secara bergantian.

Di beberapa paragraf lain ia mengungkapkan, bahwa mereka tidak memiliki rasa malu untuk bercumbu bahkan bersenggama di depan tamu. Ia merasa kaget dengan budaya free sex yang ada di kawasan tersebut yang sangat berlawanan dengan moral budaya Islam yang ada di Baghdad. Suatu ketika saat ia bertamu di sebuah rumah, tuan rumah tanpa malu bercumbu dengan pasangannya. Ia pun mengucap istighfar sambil menundukkan pandangan. Lalu tuan rumah bercanda kepadanya; "Kalian orang arab, seperti perawan-perawan kampungan yang malu melihat pemandangan seperti ini.."

Hambatan dan rintangan pun tak lepas dari kisahnya. Salah satunya, yang menurut penulis sendiri itu merupakan klimaks dari kisahnya, yaitu ketika ia dibaiat untuk menjadi ksatria ke 13 untuk memerangi oposisi penguasa, dan kejadian ini yang kemudian difilmkan menjadi 13th Warrior. Awalnya Ibn Fadhlan dan rombongan dipaksa untuk menyaksikan ritual pemakaman salah satu penguasa yang wafat, padahal sebenarnya ia telah menolaknya. Selepas pembakaran mayat, ia hendak bertolak, tetapi ia terkena fitnah oleh beberapa dukun wilayah tersebut, bahwa dia memiliki ilmu ghaib yang telah menewaskan penguasa yang baru saja wafat, dan kini hendak melarikan diri. Ibn Fadhlan berusaha menampik fitnah tersebut, lalu akhirnya ia dinasehati oleh beberapa tokoh masyarakat untuk tidak meninggalkan wilayah itu dulu supaya terbebas dari fitnah. Rintangan tidak cukup disitu saja. Saat itu memang sedang terjadi perebutan kekuasaan antara penguasa wilayah yang ditempati Ibn Fadhlan dan penguasa wilayah sampingnya yang telah berbuat curang. Lalu, sesuai nasehat dukun, agar penguasa wilayah yang ditempati Ahmad Ibn Fadhlan dapat menang melawan oposisi, ada 2 syarat. Pertama, memberangkatkan 13 kesatria. Kedua, salah satu dari ke 13 ksatria itu bukan orang asli. Dan ternyata (dengan terpaksa) Ahmad Ibn Fadhlan lah yang terpilih menjadi ksatria ke 13 itu, dan ia harus ikut bertempur masuk ke medan musuh (yang seharusnya bukan musuhnya) dengan segala keterbatasannya. Namun dengan kejadian itu, ia semakin dapat mempelajari trik-trik perang, membuat pertahanan, dan strategi-strategi ala bangsa lain, sampai cara membuat pedang ala orang Slavic, sebagaimana yang ia tuliskan dalam naskahnya. Lucu juga ya!

Karya Ahmad Ibn Fadhlan cukup menarik, hanya saja karyanya kurang dilirik oleh kalangan ahli sejarah Arab. Tentunya kita sendiri juga lebih banyak mendengar sosok Ibn Battuta (lhr 703 H) dari kawasan Maghrib yang berpetualang hingga wilayah nusantara yang disebutnya dengan Jawa. Atau perjalanannya Ibn Khaldun (lhr 732 H), antropolog, sosiolog dan sejarawan muslim Tunis yang terkenal dengan kitab Muqaddimah nya. Mungkin karena kitab karya Ibn Fadhlan adalah kitab perjalanan pertama yang ada dalam sejarah klasik Islam, sehingga nilai bobotnya kalah dengan para petualang Islam selepasnya. Meski begitu, ada pepatah arab mengatakan, al-fadhlu lilmubtadi wa in ahsanal muqtadi, (keutamaan ada pada perintis, meski orang yang meneruskannya lebih baik).

Betapa indahnya kondisi sosial dan peradaban masa silam Islam. Peradaban yang dibangun atas dasar wahyu dan ilmu pengetahuan. Sayang peradaban yang kita huni kini bukan lagi peradaban ilmu, melainkan peradaban mode. Artis dan selebriti lebih terpandang ketimbang ilmuwan atau orang-orang shalih. Sayangnya juga, saat muncul seorang antropolog budaya Jawa, yang muncul malah Clifford Geertz dari California. Lalu pada kemana orang-orang Muslim?

Cairo, 3 January 2007

Labels: